terperangkap aku di sepasang mata

terperangkap aku di sepasang mata
sepasang mata yang menyihir dan membutakan

sepasang mata yang membunuh
dan aku perlahan-lahan mati

terperangkap aku di sepasang mata
mata kau.

                            

SEPASANG SEPATU YANG TIDAK BERHENTI BERTANYA

aku dan sepasang sepatu yang tidak berhenti bertanya
'kemana kita?'
entah, berjalan. cuma berjalan
menjauh
aku dan sepasang sepatu yang tidak berhenti bertanya
'kemana kita?'
ke mana pun atau tidak ke mana-mana
berjalan. cuma berjalan
menjauh
aku dan sepasang sepatu yang tidak berhenti bertanya
'kemana kita?'
entah

DALAM GELAP

sendiri dalam gelap
berbaring tanpa kata dalam senyap
hanya kau dalam gelap
sepi menghimpit dalam gelap
.
hanya kau dalam gelap
menari sendiri dalam gelap
menjilati air mata dalam senyap
.
.
.

Labirin Impian

menemuimu di liuk liku labirin impian

sudutsudut gelap menunggu

menghilang aku. kau pun

mencaricari di liuk liku labirin impian

.

sekadar mencari ujung-ujung jari

melepaskan entah apa namanya

.

makin dalam makin menyesatkan

berlarian telanjang di labirin impian

.

...........entah sampai ke mana

.

.

Depok, Feb 08

With full respect to Mr. Borges and Ruhlelana

Kupu-Kupu Merah Pekat

ke sini, mendekat.

terbang mendekat

kupu-kupu merah pekat

.

ke sini, hinggaplah.

hinggap

meski sekejap

.

and then when you fly again

away to your vibrant meadow

I might well rest myself in pieces

.

.

Maart 2008

.

CENTAUR

Centaur_1

berlari

.

.

bersembunyi

.

.

menjilati air mata sendiri

LAY DOWN

Finding

BARANGKALI

Barangkali

sungai dan nyanyian bulir pasir

hutan adalah masa kecil kita yang teduh

menyimpan sungai dan nyanyian bulir-bulir pasir

dulu batasnya begitu dekat dengan pintu dapur

dan setiap magrib diulurkannya lengan-lengannya mengetuk jendela

.

ah, sungai dan nyanyian bulir-bulir pasir

hutan pernah menyimpan sajaknya juga di kaki-kaki kecil kita

dan kita masuk sampai jauh. meninggalkan jalan setapak yang meliuk

siapa pula bisa menyangkal rayuan ungu kembang dudukan

kenes lentik kelopaknya memikat kita menyelami palung rimba

.

lalu sampai kita ke sungai

tempat mambang dan peri menyembunyikan diri

.

betapa suka kita tertawa

menceburkan tubuh-tubuh telanjang kita pada gericik dingin itu

dan bau lumut begitu tebalnya

dan jerit kita begitu riuhnya

.

.

HALTE

kau dan aku dan berpasangpasang mata tertutup kabut

cuma boleh singgah dan bersicepat pergi lagi

.

tak ada yang mau menunggu

tak ada yang bisa ditunggu

.

meski kita tahu kita akan kembali ke sini

berkali-kali lagi

.

untuk sekadar singgah

dan hanya singgah

.

.

NO BLUES TODAY

she said, no blues today

then se wept her tears away

she said, no blues today

then she took her heart to the highway

.

we don’t grow up by age

but the doors within made us one

the way they opened, the way they closed 

.

things aren't always in their right place

and silence is a cold blooded killer

when a laughter could be a knife that slice you deep

.

she said, no blues today

then se wept her tears away

she said, no blues today

then she took her heart to the highway

.

there is always a kid inside everyone of us

playing an innocent game of joy

we've killed the kid again and again, but never enaugh

.

living's so easy until we found

how weird a life could be

and the kid is taking the game again

.

                

REDALAH REDA

seperti hembus angin di dedaunan

seperti tangis lirih di kejauhan

perlahan sungguh perlahan

kita akan saling melupakan

.

tak ada lagi jejak yang mesti di baca

tak ada lagi rindu dititipkan senja

perlahan sungguh perlahan

kita akan saling melupakan

.

redalah,

jangan lagi air mata

redalah,

jangan lagi luka menyisa

redalah,

cukupkan tangis untuk cinta

redalah,

reda

.

gerimis akan reda purnama terbit sempurna

aku dan kau harus melangkah juga

perlahan sungguh perlahan

kita akan saling melupakan

.

.

Jakarta, 13 Desember 2007

self portrait

Simbah_copy

CERITA SERIGALA

seekor anak serigala sesat di tepi rimba

pagi tadi peluru seorang pemburu

telah menembus kepala ibunya

bersama kalut dan sedih yang menggila

berlarilah si anak serigala

 

ketika merah matahari jatuh di ujung

padang

bertemu dia dengan sekawanan domba

ah, betapa bahagia

anak-anak domba di bawah mata ibunya

berebut susu yang seperti tak ada habisnya

 

dengan mata basah, dia mendekat takut-takut

“ibu, berilah aku air susumu.”

ibu domba tertegun melihatnya

serigala kecil merebut ibanya

maka disusuilah si anak serigala

 

sejak senja jatuh di ujung

padang

ikutlah si anak serigala dalam kawanan domba

bermain dia, melompat dalam kawanan

berlari berlonjakan

dan berlabuh lelap ketika gelap

penuh dia dengan cinta

dari sang ibu dan anak-anak domba

 

hari-hari si anak serigala

selamanya adalah bermain, melompat

berlari berlonjakan

dalam keriangan cinta

 

tetapi sampai suatu malam,

ketika purnama bertahta

sebuah nyanyian merayap ke telinga si anak serigala

lagu yang dibawa angin dari gunung

itulah lolongan kawan sedarahnya

,lagu kawanan serigala,

maka serigala adalah serigala

 

beranjak dia dari tepi

padang

berlari menjauh dari cinta

mencari kawanan dari mana dia bermula

berlari menjauh dari cinta

cinta yang telah dia sesap

cinta yang mengalir dalam darahnya

karena serigala adalah serigala

 

waktu sabit bulan membungkuk ke punggung malam

sampailah si anak serigala pada dunianya semula

dunia tempat di mana dia berasal

dunia tempat di mana dia semestinya

 

dan setiap purnama bertahta

ikut dia berpesta dalam hingar bingar lolongan panjang

kembali dia bernyanyi

lolongan yang hampir dia lupa

lagu malam untuk rembulan

kembali dia sebagai sebenarnya serigala

 

musim lewat, musim datang

panas datang, hujanpun jatuh

si anak serigala tumbuh perkasa

maka serigala adalah serigala

 

dalam kawanan itu

cakar dan taringnyalah yang paling ditakuti

dalam setiap petualangan

arahnyalah yang mereka ikuti

 

tapi ketika saatnya tiba seekor serigala mesti sendiri

lepas pergi dari kawanan

menapak nasib mengejar hidup,

sendiri

 

perjalanan membawa sang serigala

mangantarnya ke hutan-hutan,

menempuhi banyak

padang,

dan setiap purnama

berlarilah dia segera ke tempat-tempat tinggi

melakukan ritualnya sebagai serigala

menyanyikan lolongan kepada bulan

 

pada suatu malam di musim kering

bulan tidak nampak di muka langit

dalam kesunyiannya yang begitu asing


 

tiba-tiba teringat sang serigala

pada kawanan di

padang

rumput

tiba-tiba terasa betapa sendirinya dia kini

betapa sepi lagu-lagunya

 

teringat sang serigala

pada kawanan domba tempat dia bermain dulu

teringat pada air susu yang pernah menghidupinya

terbit rindu pada matanya

terbit rindu yang tak tertahan

 

karena rindu adalah haus

maka berlarilah dia menuruni bukit

menembus rimba-rimba

mencari di tepi padang-padang

mengikuti hembusan angin

mengikuti desakan rindu

 

setelah banyak purnama

setelah mengarungi lembah, bukit, menembusi rimba-rimba

bertemulah akhirnya dia dengan kawanan itu

domba-domba kawan susuannya dulu

 

di ujung

padang

ketika senja jatuh

dilihatnya kawanan itu

kedamaian yang dia cari-cari

kerinduan dari segala kerinduan

 

bergegas empat kakinya berderap

terasa cinta sampai ke pelupuk mata

hatinya berdentam tegap mantap

perjalanan akhirnya berujung juga

 

tapi ketika sang serigala menampakkan diri

kawanan itu segera pula menjauh

beranjak menghindarinya

menjauh sambil menatap penuh curiga

 

sang serigala kembali mendekat

menguik lembut penuh cinta

memohon agar dapat dipercaya

 

tapi dia adalah serigala

tak ada satupun mata yang tak curiga

tak ada satupun yang menerima

karena serigala adalah serigala


betapapun dia ingin kembali

begitu rindu dia pada kedamaian

sebuah hidup yang pernah dia tinggalkan

 

tapi serigala adalah serigala

harusnya berlari sendiri saja

kawanan domba tetap menolaknya

menatap dengan benci

menuduh dan curiga

 

dan begitulah,

rindupun tergantikan

kebencian memaksanya untuk menjadi serigala

dan serigala adalah serigala

 

senja jatuh di ujung

padang

berjalan sang serigala kembali ke bukit

kepalanya menunduk ekornya layu

 

ada darah di taringnya

karena serigala adalah serigala

 

 

Depok, 2004

ADA YANG TIDAK SEMPAT DIUCAPKAN

ada yang tidak sempat diucapkan mata

ketika angin menghembus daunan jatuh dari ranting

ada yang tidak sempat disampaikan ujung-ujung jari

ketika gerisik senja tiba-tiba karam di kejauhan

ada yang tidak sempat singgah di percakapan

ketika denting gelas menghanyutkan lamunan

SELEMBAR SURAT DARI RUMAH

dari lipatan baju di lemari

jatuh selembar surat dari rumah

jatuh juga selembar kelopak bunga

yang sudah kering tidak lagi menyala

.

menggelepar rindu seketika

selembar surat yang sudah menguning

tidak pernah sempat kutulis balasannya

.

waktu kuselipkan lagi kelopak bunga itu

kuselipkan juga lukaku

.

selembar surat dari rumah

kulipat lagi rapi-rapi

sambil merapikan nyeri

.

.

.

Depok, April 2007

DI SEPI OMBAK AKULAH TARIAN BUIH

di sepi ombak akulah tarian buih

dan luka-luka angin adalah lagu untuk karang

apakah tawa itu kalau kau tahu

riuh impian sunyi itu sudah disimpankah pada tahun-tahun

.

dan dosa-dosa ternyata masih juga menggelayut

          pada tarian kita

. 

kalau inilah pembebasan, maafkan aku

sepenuhnya aku mencintaimu

.

maafkan, tapi aku mencintaimu

. 

          .......selamat tidur."

.

.

DI RANTING-RANTING WAKTU

                                                 : Millie, Ch.A

.

di situ, di ranting-ranting waktu

sudah kita gantungkan mimpi yang nyaris sia-sia

apa boleh buat,

cuma itu yang kita punya

dan kepalan tinju

dan secuil kecil hati

.

hidup cuma menunda kekalahan

, kata laki-laki bermata merah,

ah, kalau hanya menunda saja

tentu tak seberat ini beban kita

dan pundak makin lama terasa makin sempit

sementara jalan makin curam tanjakannya

.

di situ, di ranting-ranting waktu

sempat juga kita titipkan beberapa lembar sajak

duh, sajak-sajak

berlembar-lembar impian berlembar-lembar juga luka kita

seperti lukisan di dinding-dinding kenangan

meski buram dimakan usia

getirnya masih terasa sama

.

.... dan aku lemah terjerat jejaring masa....

.

ah, kau.

selemah itulah aku

. serapuh itulah.

pun dengan segala mimpi

dan kepalan tinju

dan secuil kecil hati

tapi jalan menanjak berliku di depan itu

mesti ditempuhi juga

mesti ditempuhi juga

.

hidup cuma menunda kekalahan

, kata laki-laki bermata merah,

sampai kapan?

kekalahan yang mana?

sampai kematian mencium kedua mata?

ah, tapi mati bukan kalah

bila saja aku tidak begini lemah, tentulah aku jemput dia

, kematian kesayangan,

betapa menyenangkan

.

.... dan aku lemah terjerat jejaring masa....

.

begitulah kau

begitupun aku

begitulah hidup, katanya

seandainya aku, ah, seandainya kita

seandainya sajak tidak melulu luka

.

tapi apa boleh buat,

cuma itu yang kita punya

impian yang nyaris sia-sia

yang kita gantungkan di situ, di ranting-ranting waktu

cuma itu yang kita punya

dan kepalan tinju

dan secuil kecil hati

.

.

BULAN MERAH ANGGUR

bulan merah anggur

di langit sebelah timur

angin merayap menelusup diam-diam

kita begitu rapat, hati entah ada di mana

.

pernah kita punya rumah untuk pulang

, sebuah cita-cita,

ketika darah begitu deras arusnya

.

setiap aku dengar lagu itu lagi

sesuatu pecah di dalam ku

.

sayangnya, kita tidak bisa memutar mundur waktu

.

pernah kita punya rumah untuk pulang

, sebuah cita-cita,

ketika darah begitu deras arusnya

.

sayangnya, kita tidak bisa memutar mundur waktu

.

.

with full respect to Tom Waits

MENDUNG ITU MENGHADIAHI AKU SUNYI

.

mendung itu menghadiahi aku sunyi

sunyi yang begitu liar

mendekap, meremas, memagut

habis aku di dalamnya

.

mendung itu menghadiahi aku sunyi

sunyi yang begitu purba

sepurba mimpi-mimpi buruk

sepurba luka

.

mendung itu menghadiahi aku sunyi

sunyi yang begitu sejuk

penuh kenangan dan hayalan tanpa batas

:seorang bocah tertawa berlarian di antara gerimis

.

mendung itu menghadiahi aku sunyi

sunyi yang begitu merdu

meningkahi lamunan

dan rindu

rindu yang sama sunyinya

pada rumah, pada ibu

.

mendung itu menghadiahi aku sunyi

sunyi yang begitu sunyi

.

.

9/2/2007 sunrise

.

.

Musim Hujan

monas tinggal separuh pucuk

rumah-rumah tepi kali tinggal

jejeran semrawut antena tipi

ahoooooooooy... musim hujan datang lagi

.

seperti lebaran, tahun baru dan BBM yang pasti naik

banjir begitu pula, rutin menyambangi kita

.

selamat datang banjir,

selamat tidur, jakarta.

tak ada luka yang kami sia-siakan

dalam jala asap biru yang kami tebar

seribu kunang-kunang berkeredap

di mata kami pecah malam

kami tidak menangis

.

pelan-pelan malam kami lipat

jejal sumpalkan di sela bilur luka

seperti seribu musim lain yang tak

pernah kami buang

tak ada luka yang kami sia-siakan

Jimmy Something (a tribute)

Jim_1

laki-laki bertelanjang dada

berputarputar menarikan mantra

               bird of prey

               bird of prey

               flying high

               flying high

kita adalah cahaya

dengan gelap menjela-jela

dengan segelas dosa

kita rayakan mabuknya luka

laki-laki bertelanjang dada

berputarputar menarikan mantra

               bird of prey

               bird of prey

               flying high

               flying high

Kepada Para Pemuja

dan setelah kita sucikan hati

kembali kita cuci tangan-tangan kita

dengan darah

.

semoga surga benar-benar ada

karena neraka sungguh begitu nyata

, di sini,

di bumi

.

.

di tanah tempat sajak terbakar (ode untuk perang)

:untuk Baraa Habeeb, gadis 3 tahun, dan anak-anak lain yang mati di Lebanon

.

senja masih harum, sayang
seperti kenangan berbaring di bawah naungan cedar
ah, merah senja
semerah bara
api datang dari barat, sayang
memerahkan senja kita
.
mari sini, aku bacakan sajak-sajak tua
tentang penyair dan mawar al hani
sampai malam jadi benar-benar gelap
sampai luka tidak terasa

.
tunggulah
tunggulah, sayang
dalam kenangan berbaring di bawah naungan cedar
di tanah tempat sajak-sajak terbakar
.
ah, sajak-sajak tua
padahal kau sudah tau segala
betapa pagi tuhanmu datang mencium, sayang
menjemputmu bersegera
ah, bukit dan senja, kalian menari dalam hujan api
.
pergilah kini, dari tanah sang nabi
tempat dongeng-dongeng pernah disemai
tempat hujan berkilau dan langit kemilau
tempat kerisik daun dan nyanyian purba burung-burung surga
pergilah, sebelum harum senja meredup
harum mesiu, bau api
datang dari barat, memerahkan senja kita

.
tunggulah
tunggulah, sayang
dalam kenangan berbaring di bawah naungan cedar
di tanah tempat sajak-sajak terbakar

.

.

Depok, 08/06

tentang kematian itu, nanti

Canvasjpg nanti kalau kau sudah benar-benar siap, jangan lupa beritahu aku

dan aku berjanji kita akan melakukannya bersama-sama

atau kalau saat itu sampai dan aku belum juga punya nyali

aku akan duduk tenang-tenang melihat kau mengiriskan pisau itu

pelan-pelan ke nadimu

aku akan duduk tenang-tenang menunggui sampai kau benar-benar mati

,mungkin sambil menghisap beberapa batang rokok,

dan kita akan membicarakan hal-hal ringan

cocteau twins, barangkali? atau tom waits?

kita akan berbincang-bincang tentang senja, film-film, perempuan-perempuan,

apa saja

aku akan menungguimu dan kita akan membicarakan hal-hal ringan, 

sampai kau benar-benar mati

tapi sungguh, jauh dalam hati jika kau sudah benar-benar siap

aku ingin aku juga sudah memiliki keberanian seperti yang kau punya

dan kita akan melakukannya bersama-sama

,pasti akan sangat menyenangkan,

dengan seorang teman menjelang sebuah kematian yang dijemput dengan sadar

bukan sebuah pelarian, bukan sebuah kematian untuk dibanggakan karena kita tidak mati untuk jadi pahlawan

bukan untuk sebuah kemenangan atau kekalahan

hanya sebuah kematian

tidak dramatis

kita hanya mati saja

sebuah kematian yang akan kita jelang sambil berbincang-bincang

(memang mungkin baju kita akan sedikit kotor oleh darah yang keluar dari nadi yang terpotong, tapi kau tentu tidak akan keberatan

kan

?)

.

pada hari itu tidak akan ada smirnov, jim beam, bahkan tidak akan ada ganja

kita harus benar-benar sadar, begitu

kan

yang sudah kita putuskan?

karena tanpa kesadaran penuh, kematian yang kita jelang adalah sebuah ketololan

dan sebuah ketololan bukanlah sebuah kematian yang patut

bukan kematian yang pernah kita rencanakan

.

aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau tidak mengundangku pada hari kematianmu

aku akan menyumpahi kematianmu jika kau mati tanpa memberi tahu aku terlebih dahulu

karena aku juga pasti akan memberitahu kau jika aku sudah siap

karena kita sudah berjanji,

kan

?

pada saatnya kau (atau aku) akan menelfon, atau sebuah pesan singkat

“aku sudah siap, harinya sudah tiba”

dan kita akan mati bersama-sama

,pasti akan sangat menyenangkan,

.

mungkin kita akan mati pada senja yang merah tembaga

atau pagi hari

atau selewat tengah malam ketika anjing tidak lagi mengonggong

kapanpun

kapanpun jika waktunya sudah tiba

aku akan duduk tenang-tenang melihat kau mengiriskan pisau itu

pelan-pelan ke nadimu

dan kau akan melihat aku mengiriskan pisauku

pelan-pelan ke nadiku

lalu kita akan sama-sama menunggu

dan kita akan berbincang-bincang

ah, atau malah kita akan saling diam menikmati lagu masing-masing?

aku dengan laguku dan kau dengan lagumu

aku dengan lukaku dan kau dengan lukamu

sampai kau benar-benar mati

sampai aku benar-benar mati

,pasti akan sangat menyenangkan,

.

.

Depok, 2 Januari 2006