CERITA SERIGALA
seekor anak serigala sesat di tepi rimba
pagi tadi peluru seorang pemburu
telah menembus kepala ibunya
bersama kalut dan sedih yang menggila
berlarilah si anak serigala
ketika merah matahari jatuh di ujung
padang
bertemu dia dengan sekawanan domba
ah, betapa bahagia
anak-anak domba di bawah mata ibunya
berebut susu yang seperti tak ada habisnya
dengan mata basah, dia mendekat takut-takut
“ibu, berilah aku air susumu.”
ibu domba tertegun melihatnya
serigala kecil merebut ibanya
maka disusuilah si anak serigala
sejak senja jatuh di ujung
padang
ikutlah si anak serigala dalam kawanan domba
bermain dia, melompat dalam kawanan
berlari berlonjakan
dan berlabuh lelap ketika gelap
penuh dia dengan cinta
dari sang ibu dan anak-anak domba
hari-hari si anak serigala
selamanya adalah bermain, melompat
berlari berlonjakan
dalam keriangan cinta
tetapi sampai suatu malam,
ketika purnama bertahta
sebuah nyanyian merayap ke telinga si anak serigala
lagu yang dibawa angin dari gunung
itulah lolongan kawan sedarahnya
,lagu kawanan serigala,
maka serigala adalah serigala
beranjak dia dari tepi
padang
berlari menjauh dari cinta
mencari kawanan dari mana dia bermula
berlari menjauh dari cinta
cinta yang telah dia sesap
cinta yang mengalir dalam darahnya
karena serigala adalah serigala
waktu sabit bulan membungkuk ke punggung malam
sampailah si anak serigala pada dunianya semula
dunia tempat di mana dia berasal
dunia tempat di mana dia semestinya
dan setiap purnama bertahta
ikut dia berpesta dalam hingar bingar lolongan panjang
kembali dia bernyanyi
lolongan yang hampir dia lupa
lagu malam untuk rembulan
kembali dia sebagai sebenarnya serigala
musim lewat, musim datang
panas datang, hujanpun jatuh
si anak serigala tumbuh perkasa
maka serigala adalah serigala
dalam kawanan itu
cakar dan taringnyalah yang paling ditakuti
dalam setiap petualangan
arahnyalah yang mereka ikuti
tapi ketika saatnya tiba seekor serigala mesti sendiri
lepas pergi dari kawanan
menapak nasib mengejar hidup,
sendiri
perjalanan membawa sang serigala
mangantarnya ke hutan-hutan,
menempuhi banyak
padang,
dan setiap purnama
berlarilah dia segera ke tempat-tempat tinggi
melakukan ritualnya sebagai serigala
menyanyikan lolongan kepada bulan
pada suatu malam di musim kering
bulan tidak nampak di muka langit
dalam kesunyiannya yang begitu asing
tiba-tiba teringat sang serigala
pada kawanan di
padang
rumput
tiba-tiba terasa betapa sendirinya dia kini
betapa sepi lagu-lagunya
teringat sang serigala
pada kawanan domba tempat dia bermain dulu
teringat pada air susu yang pernah menghidupinya
terbit rindu pada matanya
terbit rindu yang tak tertahan
karena rindu adalah haus
maka berlarilah dia menuruni bukit
menembus rimba-rimba
mencari di tepi padang-padang
mengikuti hembusan angin
mengikuti desakan rindu
setelah banyak purnama
setelah mengarungi lembah, bukit, menembusi rimba-rimba
bertemulah akhirnya dia dengan kawanan itu
domba-domba kawan susuannya dulu
di ujung
padang
ketika senja jatuh
dilihatnya kawanan itu
kedamaian yang dia cari-cari
kerinduan dari segala kerinduan
bergegas empat kakinya berderap
terasa cinta sampai ke pelupuk mata
hatinya berdentam tegap mantap
perjalanan akhirnya berujung juga
tapi ketika sang serigala menampakkan diri
kawanan itu segera pula menjauh
beranjak menghindarinya
menjauh sambil menatap penuh curiga
sang serigala kembali mendekat
menguik lembut penuh cinta
memohon agar dapat dipercaya
tapi dia adalah serigala
tak ada satupun mata yang tak curiga
tak ada satupun yang menerima
karena serigala adalah serigala
betapapun dia ingin kembali
begitu rindu dia pada kedamaian
sebuah hidup yang pernah dia tinggalkan
tapi serigala adalah serigala
harusnya berlari sendiri saja
kawanan domba tetap menolaknya
menatap dengan benci
menuduh dan curiga
dan begitulah,
rindupun tergantikan
kebencian memaksanya untuk menjadi serigala
dan serigala adalah serigala
senja jatuh di ujung
padang
berjalan sang serigala kembali ke bukit
kepalanya menunduk ekornya layu
ada darah di taringnya
karena serigala adalah serigala
Depok, 2004


Recent Comments